Sabtu, 24 Mei 2014

Hama PBK pada Kakao

Hama PBK pada Kakao

1. Tingkat Serangan PBK
Hama utama pada kakao yaitu Penggerek Buah Kakao (PBK) yang disebabkan oleh Conopomorpha cramerella. Harga kakao Indonesia di terminal kakao New York terus menurun dari 250 USD menjadi 125 USD per ton, jauh dari harga kakao asal Pantai Gading (Afrika bagin barat) yang 250-300 USD per ton. Harga kakao yang rendah ini selalu dihubungkan dengan adanya serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK).
Penyebaran Hama PBK meliputi beberapa sentra produksi kakao seperti Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku dan beberapa tempat lainnya. Buah kakao terserang dengan gejala belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva. Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Karena biji-biji saling melekat menyebabkan buah terserang jika dikocok tidak berbunyi, sedangkan buah sehat akan berbunyi. Tanaman selain kakao yang dapat terserang yaitu rambutan.
 
Petani sulit mengidentifikasi apakah tanaman coklat  terserang hama PBK atau tidak. Apabila buah kakao dibelah, isinya sudah tidak beraturan akibat gerekan larva dari dalam buah. Petani akan menderita kerugian besar, sehingga upaya pembahasan PBK dan alternatif pengendaliannya menjadi penting.
 
Jika pada hamparan tanaman kakao terserang berat diprediksi tidak dapat menghasilkan produksi optimal, karena ternyata buah kakao menjadi rusak dan cacat akibat serangan hama ini. Dengan demikian perlu diupayakan semaksimal mungkin untuk mengendalikan serangan hama tersebut baik secara preventif maupun kuratif, setidaknya meminimalkan kerusakan dan kerugian.
Gambar 1. 
(a) Buah kakao  terserang hama PBK 
(b) Lubang masuk hama
 
Di beberapa daerah sentra tanaman kakao, biji yang  rusak karena serangan PBK dapat mencapai 82%. Artinya dari 1 kg hasil panen hanya 1,80 ons kakao yang bisa dimanfaatkan secara ekonomi. Dengan asumsi produksi kotor sekitar 100 ton, maka yang dapat dimanfaatkan hanya 18 ton. 
 
Hama PBK biasanya meletakkan telurnya setelah matahari terbenam pada alur kulit buah kakao. Setelah telur menetas akan menjadi larva.
Gambar 2. Imago Conopomorpha Cramerella Snellen
 
Larva menjadi sumber kerusakan pada buah kakao karena  akan segera membuat lubang ke dalam buah yang dimaksudkan agar terhindar dari pemangsa (predator). Larva yang masuk ke dalam buah akan tinggal pada kumpulan beberapa biji atau plasenta (saluran makanan). 
 
Di dalam buah, larva akan menggerek daging buah kakao tepat di bawah plasenta. Selanjutnya bagian diantara biji serta plasentanya tergerek, sehingga bila  kulit buah dikupas akan tampak lubang berwarna merah muda yang berliku-liku di dalam buah. Serangan PBK pada buah menyebabkan biji gagal berkembang, biji dalam buah saling melekat, bentuknya kecil dan ringan.
 
Keberadaan hama PBK dalam buah menyulitkan pengendalian hama dan petani sulit mengindentifikasi kerusakan pada buah sejak dini, sehingga aplikasi pestisida tidak efektif. 
 
2. Siklus Hidup PBK.
Perkembangan dari telur menjadi imago (serangga dewasa) selama 35 – 45 hari. Siklus hidup serangga PBK tergolong metamorfosa sempurna yaitu : telur, larva, pupa dan imago.
Gambar 3. Siklus Hidup PBK (Conopomorpha Cramerella Snellen)
 
Telur
Telur berwarna merah jingga dan diletakkan pada kulit buah, terutama pada alur buah. Telur berukuran sangat kecil (sulit dilihat) dengan  panjang 0.8 mm dan lebar 0.5 mm. Serangga dewasa bertelur 50 – 100 butir pada setiap buah kakao. Telur akan menetas dalam waktu 6–9 hari.
 
Larva
Larva yang menetas dari telur tersebut berwarna jingga, bergerak dan mulai membuat lubang ke dalam kulit, untuk selanjutnya masuk ke dalam buah kakao. Larva tua berwarna putih kekuningan. Lubang gerekan berada tepat di bawah tempat meletakkan telur. Larva akan menggerek daging buah, diantara biji dan plasenta. Panjang larva sekitar 1,0-1,2 cm dan berwarna ungu muda hingga putih, lama hidup dalam buah kakao antara 14 – 18 hari, kemudian menjadi kepompong. Setiap buah dapat mengandung 6-40 larva. 
 
Kepompong
Kepompong terlindung dalam anyaman kokon . Periode kepompong 6-8 hari, warna abu-abu gelap dan panjang 8 mm. Biasanya larva berkepompong pada daun atau alur buah, dan larva membuat lubang keluar dengan benang-benang sutra yang keluar dari mulutnya. Melalui benang tersebut, larva turun ke tanah dan menggulung menjadi kepompong. Dengan demikian kepompong seringkali di temukan pada daun kering di tanah, keranjang, karung atau kantong plastik yang ada di sekitar pohon kakao. Kepompong berubah menjadi imago.
 
Imago
Imago berwujud kupu-kupu kecil (ngengat)  dengan panjang 7 mm dan lebar 2 mm, memiliki sayap depan berwarna hitam bergaris putih, pada setiap ujungnya terdapat bintik kuning dan sayap belakang berwarna hitam. Antena yang lebih panjang dari badannya dan runcing. Imago aktif mulai senja sampai malam hari, pada pukul 18.00 – 20.30. Pada siang hari biasanya berlindung di tempat lembab dan tidak terkena sinar matahari. Daya terbangnya tidak terlalu tinggi namun mudah terbawa oleh angin. Serangga dewasa ini sendiri hanya berumur 5 – 7 hari, setelah bertelur akan mati.
 
3. Pengendalian PBK.
Pengendalian dapat dilakukan baik secara preventif maupun kuratif. Berdasarkan pengalaman, serangan PBK dapat mencapai 0 % apabila dilakukan aplikasi 1 x insektisida yang telah direkomendasikan oleh Komisi Pestisida sebelum sarungisasi menggunakan kantong plastik.
 
3.1. Tindakan Pencegahan Serangan PBK
 
a. Karantina.
Metode karantina dilakukan bertujuan mencegah masuknya hama dari negara lain seperti Philipina dan Malaysia atau dari satu daerah ke daerah lain dengan cara menghindari masuknya buah yang terjangkit serta bahan maupun alat yang mengandung hama PBK.
 
b. Frekuensi Panen.
Kakao yang dipanen sering kurang beresiko terserang hama PBK . Kulit buah yang telah dipanen perlu dikumpulkan dan dibenamkan ke dalam tanah sehingga mampu menekan populasi serta perkembangbiakan PBK karena banyak larva yang juga ikut terbenam bersama kulit buah menjadi kompos.
 
c. Pemangkasan.
Pemangkasan kakao dapat dilakukan sebagai salah satu teknik pengendalian hama PBK, karena kanopi menjadi tidak terlalu rimbun. Kondisi kanopi yang rimbun sangat kondusif bagi pertumbuhan hama PBK. Dengan pertimbangan bahwa kelemahan imago PBK  tidak menyukai sinar matahari langsung, sehingga bila sering dilakukan pemangkasan teratur akan dapat menekan populasi hama karena distribusi sinar matahari pada bagian tanaman maupun areal kebun menjadi merata. Pemangkasan bentuk pohon kakao dilakukan dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m memudahkan saat pengendalian dan panen.
 
d. Pemupukan.
Apabila unsur hara yang dibutuhkan tanaman terpenuhi akan memperlancar proses metabolisme tanaman. Selanjutnya akan mempercepat masaknya buah, sehingga dapat mengurangi tingkat kerusakan buah dan memungkinkan frekuensi panen lebih sering. Pertumbuhan tanaman yang sehat akan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama PBK.
 
 
3.2. Tindakan Kuratif Pengendalian  PBK
a. Sanitasi dan Sistem Rampasan.
Sanitasi berarti membersihkan areal kebun dari daun kering, ranting kering, kulit buah dan gulma yang berada di sekitar tanaman. Keadaan yang bersih menjadikan kondisi yang tidak sesuai bagi hama PBK.
Sistem Rampasan dimaksudkan memetik buah terserang PBK. Pada akhir panen, semua sisa buah kakao dipetik dan dimusnahkan. Daur hidup hama akan terputus, sehingga serangan pada periode berikutnya akan rendah.
 
b. Kondomisasi/ Pembungkusan.
Kondomisasi atau sarungisasi berarti membungkus buah kakao dengan plastik. Caranya yaitu ujung bagian atas kantong plastik diikatkan pada tangkai buah, sedangkan ujung buah tetap terbuka. Dengan cara penyelubungan buah tersebut, hama tidak dapat meletakkan telur pada kulit buah sehingga buah terhindar dari serangan larva. Pembungkusan dilakukan ketika buah berukuran kecil, 8-12 cm.
Gambar 4. Pembungkusan buah kakao dengan plastik
 
Untuk menjaga stabilitas tingkat serangan hama PBK 0 % dapat dilakukan tindakan berikut :
1. Didahului dengan aplikasi insektisida satu kali pada saat panjang buah 8-12 cm, selanjutnya buah tersebut dibungkus plastik 
2. Panen sering, buah yang masak dijemur.
3. Disertai pemangkasan dan pemupukan sesuai dosis anjuran.
Read More ->>

Sabtu, 22 Maret 2014

Gandum

II.       TINJAUAN PUSTAKA
2.1    Sejarah Perkembangan Gandum di Indonesia
Gandum (Triticum aestivum L.) merupakan tanaman yang berasal dari daerah subtropis, akan tetapi melalui usaha–usaha manusia dibidang pemuliaan dan budidaya tanaman, penyebaran tanaman gandum mulai meluas ke daerah iklim sedang dan tropis. Pengembangan gandum di Indonesia dimulai sejak Menteri Pertanian dipegang oleh Prof.Dr.Ir.H. Thoyib Hadiwijaya dengan membentuk Tim Inti Uji Adaptasi Gandum pada tahun 1978, lokasi uji coba terletak di Kabanjahe (Sumatera Utara). Benih asal yang digunakan adalah Cimmyt Meksiko dengan produktivitas empat ton/ha dalam bentuk pecah kulit (Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001 cit., Puspita, 2009).  
Pengembangan uji adaptasi tersebut tidak berlanjut, Kemudian pada tahun 2000 PTISM Bogasari Flour Mills mensponsori kegiatan penelitian gandum di Indonesia melalui Proyek Gandum 2000. Penelitian tersebut dilakukan untuk mempelajari kemungkinan pengembangan gandum di Indonesia sebagai bagian dari strategi pengembangan gandum (pewilayahan gandum). Adapun proyek tersebut dilakukan melalui kerjasama antara Departemen Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor, Universitas Brawijaya, SEAMEO Biotrop, Universitas Kristen Satia Wacana (UKSW) Salatiga dan Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo. Penelitian tersebut menghasilkan pemetaan wilayah yang sesuai untuk pembudidayaan tanaman gandum (Bogasari, 2004).
Pada tahun 2001 pemerintah Indonesia melalui Departemen Pertanian merintis pengembangan gandum dalam bentuk demonstrasi area di enam provinsi yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan, dengan menggunakan benih galur asal India dan Cimmyt. Sampai tahun 2003 Ditjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian terus melakukan pengembangan gandum berupa penelitian dan percobaan dalam rangka penyiapan dan perbanyakan sekaligus uji multi lokasi. Hasil yang diperoleh dari usaha pengembangan tersebut cukup menggembirakan dan memperoleh respon yang cukup baik dari petani dan pemerintah daerah. Panen perdana gandum dilakukan pada tahun 2002 di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
 Selanjutnya pada tahun 2004, Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan Departemen Pertanian mencanangkan dan meluncurkan program pengembangan gandum secara massal melalui Program Pengembangan Gandum Berkibar (Berkembang, Kurangi Impor dan Bantu Rakyat) seluas satu juta hektar yang diharapkan dapat terwujud di Indonesia. Hingga saat ini Indonesia telah melepas empat varietas gandum yaitu : 1) Dewata berasal dari DWR 162 (India), 2) Selayar berasal dari Cimmyt Meksiko, 3) Nias berasal dari Thailand, dan 4) Timor berasal dari India. Keempat varietas tersebut hanya untuk dataran tinggi (>800 m dpl) dan banyak ditanam saat ini hanya varietas Dewata dan Nias. Dilepaskannya empat varietas gandum oleh pemerintah menunjukkan bahwa gandum dapat dikembangkan di Indonesia.  
Di Indonesia lokasi yang memiliki kondisi iklim yang sesuai untuk pertumbuhan gandum dan telah digunakan sebagai lokasi pengembangan hingga tahun 2008 yaitu Nangro Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan timur, dan  Sulawesi Selatan (Ditjen Tanaman Pangan, 2008).
2.2    Tanaman Gandum
Berdasarkan kegunaannya gandum dapat dibedakan menjadi gandum lunak (soft wheat) dan gandum keras (hard wheat), gandum lunak memiliki kadar protein 6–11 persen.  Karena kandungan gluten yang dimiliki rendah maka gandum lunak cocok untuk pembuatan kue–kue kering, biskuit,  crackers, dan sebagainya yang tidak memerlukan daya kembang yang tinggi sehingga dapat memberikan bentuk pada hasil cetakan kue. Gandum keras memiliki kadar protein 11–17 persen dan gluten yang lebih tinggi daripada gandum lunak sehingga dapat menghasilkan tepung gandum yang kuat daya kembangnya dan sangat cocok untuk pembuatan roti.  Selain itu gandum keras warnanya lebih gelap dan tidak memperlihatkan zat pati yang putih seperti gandum lunak (Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001 cit., Puspita, 2009).
Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan (2001), menyatakan akar tanaman gandum memiliki dua macam akar yaitu akar kecambah, merupakan akar pertama yang tumbuh dari embrio dan akar adventif yang kemudian tumbuh dari buku dasar. Berbeda dengan akar kecambah yang kemudian mati, akar adventif membentuk sistem perakaran yang perakarannya berada sedalam 10-30 cm di bawah permukaan tanah. 
Batang tanaman gandum tegak, berbentuk silinder dan membentuk tunas.  Ruas-ruasnya pendek dan buku-bukunya berongga. Pada tanaman dewasa terdiri dari rata-rata enam ruas. Tinggi tanaman gandum atau panjang batang dipengaruhi oleh sifat genetik dan lingkungan tumbuh (Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001 cit., Puspita 2009).
Daun pertama gandum, berongga dan berbentuk silinder, diselaputi plumula yang terdiri dari dua sampai tiga helai daun. Helaian daun gandum tersusun dalam setiap batang, setiap daun membentuk sudut 1800 dari daun yang satu dengan daun yang lainnya. Daun telinga (auricle) barwarna pucat atau kemerah-merahan. Sedangkan lidah daun tidak berwarna, tipis dan berujung bulu-bulu dan halus (Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001).
Bunga tanaman gandum berbentuk malai terdiri dari bulir-bulir. Tiap bulir terdiri dari lima buah bunga. Malai tersusun buku dan ruas yang pendek dan menyempit pada pangkal dan ujungnya melebar. Ujung bulir membentuk rambut yang panjang bervariasi (Nasir, 1987 cit., Sudarmini, 2001). Gandum termasuk tanaman yang mengadakan penyerbukan sendiri, kemungkinan penyerbukan silang 1-4 persen (Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001).
Butir gandum (kernel, grain) secara botani adalah buah (caryopsis). Kulit biji berimpit dengan kulit buah. Biji terdiri dari nutfah (germ atau embrio), endosperm, scutellum. dan lapisan aleuron.  Bentuk butir bervariasi dari lonjong bundar sampai lonjong lancip. Biji gandum berwarna merah kecoklat-coklatan, putih dan warna diantara keduanya (Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001 cit, Puspita, 2009).
Manfaat gandum sebagai bahan pangan sangat beragam terutama dalam diversifikasi pangan seperti makanan ringan roti, mie, biskuit, pudding, es krim, macaroni, kue, bahan pakan ternak seperti gabah, dedak, bungkil, dan untuk industri dalam pembuatan kerajinan, hiasan dan pembuatan kertas (Direktorat Budidaya Serealia, 2008). Sebagai bahan pangan gandum, gandum telah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia. Manfaat gandum yang beragam merupakan keunggulan yang dimiliki oleh gandum.
2.3 Budidaya Gandum
Pada dasarnya tanaman gandum dapat beradaptasi secara luas dipermukaan bumi, mulai dari dekat khatulistiwa sampai 60°LU dan 40°LS. Daerah-daerah penyebarannya adalah 30-60°LU dan 25-40°LS.  Di Indonesia gandum ditanam di daerah pegunungan diatas 800 meter diatas permukaan laut (dpl). Suhu minimum untuk pertumbuhan adalah 2-4°C, suhu optimum sekitar 20-25°C sedangkan suhu maksimum 37°C. Umumnya tanaman gandum membutuhkan curah hujan minimum 250 mm, curah hujan selama periode hidupnya diperlukan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan. Kebutuhan air bervariasi setiap fase perkembangan tergantung kondisi iklim dan tanah ( Chang, 1968, cit., Sudarmini, 2001). Penggunaan air tanaman ini ditentukan oleh waktu tanam, jumlah benih yang disemai, varietas dan kombinasi diantara faktor-faktor tersebut. Tanaman gandum banyak ditanam pada daerah-daerah dengan kisaran curah hujan 350–1.250 mm.  Curah hujan efektif untuk pertanaman gandum adalah 825 milimeter per tahun akan memberikan produksi yang tinggi, dengan pelaksanaan pergiliran tanaman dan pembuatan saluran irigasi (Direktorat Budidaya Serealia, 2008).
Kekurangan air pada fase  pertumbuhan gandum dapat mempengaruhi hasil akhir yang diperoleh. Periode pertumbuhan yang sangat sensitif terhadap kekurangan air terjadi selama fase pembungaan organ reproduksi dan pembungaan (Jakson, 1977 cit., Sudarmini, 2001)
Menurut Kaufman (1972) dalam Tobing (1987) dalam Sudarmini (2001) pengaruh kekurangan air pada masa reproduktif tanaman dalam tiga tahap yaitu : tahap pembungaan, tahap perkembangan buah dan tahap pematangan buah. Pada tahap pembungaan tidak terdapat pengaruh khusus, tetapi dengan berkurangnya air dapat mengurangi produksi bunga. Pada tahap perkembangan buah, kekurangan air dapat dilihat pada ukuran buah yang mengecil. Sedangklan kekurangan air pada tahap pematangan buah akan mempengaruhi kemasakan dan kualitas buah yang dihasilkan.
Tanaman gandum dapat beradaptasi dengan baik pada kelembaban udara yang relatif  rendah.  Di daerah-daerah pegunungan yang ada di Indonesia kelembaban udara rata-rata adalah 90 persen dalam musim hujan dan 80 persen dalam musim kemarau.  Waktu yang paling baik dalam menanam gandum di Indonesia adalah menjelang musim kemarau sehingga fase pematangan jatuh pada musim kemarau, karena pada bulan pertama dan kedua diperlukan air yang merata dan cukup jumlahnya dalam pembentukan tunas dan primordial.  Sedangkan pada bulan ketiga mulai fase pematangan tidak memerlukan banyak air.  Untuk daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur penanaman gandum dimulai bulan Maret sampai dengan bulan Juni dengan curah hujan 643-841 milimeter dan hari hujan 2,8-3,6 hari per bulan, sedang suhu berkisar antara 15,1-20,6°C (Direktorat Budidaya Serealia, 2008). 
Intensitas radiasi surya mempengaruhi semua komponen hasil yaitu : pertumbuhan, jumlah malai persatuan luas, jumlah bulir isi per malai dan rata-rata bobot bulir. Pembentukan malai yang maksimum selain tergantung pada varietasnya juga akan sangat tergantung pada tingkat intenstas radiasi surya pada masa pertumbuhan. Makin tinggi intensitas radiasi surya maka akan mempertinggi pembentukan malai dan sama pula terjadi pada laju fotosintesis (Tobing, 1987 cit.,   Sudarmini, 2001).
Adaptasi tanaman gandum terhadap jenis-jenis tanah juga sangat luas, akan tetapi jenis tanah yang baik adalah tanah yang dapat menahan air dalam jumlah yang cukup selama pertumbuhan tanaman. Umumnya jenis tanah untuk pertanaman gandum di Indonesia adalah andosol, regosol kelabu, latosol dan aluvial, pH tanah yang baik untuk pertumbuhan gandum adalah berkisar 6,8-7,5.  Syarat tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman gandum adalah : 1) hara yang diperlukan cukup tersedia 2) tidak ada zat toksik 3) kelembapan mendekati kapasitas lapang 4) suhu tanah rata-rata berkisar 12-28°C 5) aerasi tanah baik dan 6) tidak ada lapisan padat yang menghambat penetrasi akar gandum untuk menyusuri tanah.
Benih yang digunakan benih bermutu, hal ini sangat penting disamping untuk menghasilkan produksi tinggi juga untuk ketahanan terhadap hama dan penyakit menyerang. Dalam memilih benih sebaiknya benih yang digunakan berasal dari malai yang matang pada batang utama, mempunyai bentuk dan warna yang seragam dan mempunyai bobot yang tinggi dan seragam serta bebas dari hama dan penyakit.  Varietas yang ada dan pernah dikembangkan di Indonesia baru beberapa varietas saja diantaranya Nias, Timor, Selayar dan Dewata namun dari ke empat tersebut yang banyak ditanam oleh petani adalah varietas Selayar, Dewata dan Nias. Kebutuhan benih untuk setiap hektarnya tergantung dari daya tumbuh benih.  Bila benih dengan daya tumbuh 95 persen cukup dua butir/lubang dengan jarak tanam 20 x 10 cm diperlukan 30 kg benih/ha.  Sedangkan benih berdaya tumbuh kurang dari 95 persen, jumlah benih/lubang leniih dari dua butir sehingga jumlah benih yang dibutuhkan 35 kg benih/ha (Direktorat Budidaya Serealia, 2008).
Karena penanaman gandum dilakukan pada musim kemarau setelah musim hujan maka tanah diberakan untuk menjaga aerasi tanah.  Pengolahan  dilakukan dua kali yaitu: 1) Pengolahan pertama pencangkulan/pembajakan dengan tujuan menggemburkan tanah dan membasmi gulma;  2) Pengolahan tanah kedua yaitu satu minggu setelah pengolahan pertama, sekaligus pemberian pupuk organik bila diperlukan kemudian tanah dibiarkan selama 7-10 hari. Sebelum penanaman terlebih dahulu dibuat lubang pertanaman dengan cara ditugal, kemudian benih dimasukan 2-3 butir/lubang dan ditutup dengan tanah halus. Jarak tanam tergantung dari tingkat kesuburan tanah. Jarak tanam yang sering digunakan adalah 20 x 10 cm, 25 x 10 cm, dan 30 x 10 cm (Direktorat Budidaya Serealia, 2008 cit., Puspita, 2009).
Waktu pemupukan dapat dilakukan sebelum tanam atau pada saat tanam sebagai pupuk dasar.  Pupuk pertama yang harus diberikan adalah TSP dan KCl serta sebagian pupuk N.  Dosis pemupukan dapat ditentukan oleh jumlah hara yang tersedia di dalam tanah.  Jumlah pupuk organik yang biasa digunakan sebanyak 20 ton/ha. Sedangkan pupuk anorganik sebanyak 120 kg N/ha, 45-90 kg P/ha dan 30-60 kg K/ha. Pemberian pupuk urea dapat diberikan 2-3 kali (Direktorat Budidaya Serealia, 2008).
Penyiangan dilakukan 2-3 kali tergantung banyaknya populasi gulma. Penyiangan pertama, kedua dan ketiga dilakukan pada saat tanaman berumur satu bulan, tiga minggu setelah penyiangan pertama dan selanjutnya tergantung pada jumlah populasi gulma. Di Indonesia hama yang menyerang tanaman gandum dan cukup berbahaya adalah Aphhids, Walang sangit, Ulat grayak, Penggerek batang, Sundep dan Nematoda (Direktorat Budidaya Serealia, 2008 cit., Puspita, 2009).
Gandum siap dipanen setelah 80 persen dari rumpun telah bermalai, jerami batang dan daun mengering dan menguning. Jika 20 persen dari bagian malai telah matang penuh, butir gandum cukup keras bila dipijit ditangan.  Jika gandum yang terlalu matang cenderung rebah dan rontok disamping itu akan menurunkan bobot butir gandum. Untuk menentukan gandum cukup untuk dipanen yaitu dengan cara menggosok butir–butir gandum dengan tangan dan terlepas dari malainya. Batang gandum dipotong 30 cm dari ujung malai kemudian diikat.  Malai yang baru dipanen dikeringkan, dijemur pada panas matahari selama 1-2 hari agar malai mudah dirontokan.  Gandum dirontokan dengan irik, diinjak-injak atau dipukul pada kisi-kisi kawat. Setelah perontokan biji gandum dikeringkan sampai kadar air 14 persen (Direktorat Budidaya Serealia, 2008).
2.4 Identifikasi Plasma Nutfah
Plasma nutfah adalah potensi genetik dari makhluk hidup. Keanekaragaman plasma nutfah memungkinkan organisme untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan. Tidak ada satu individu pun dari spesies manapun yang mendukung semua keragaman genetik dari spesies itu. Ini berarti bahwa total potensi genetik hanya terwakili di dalam populasi yang terdiri banyak individu. Potensi genetik seperti ini disebut genepool. Potensi yang terdapat dalam genepool merupakan dasar atau fondasi bagi tanaman pertanian, kehutanan, ternak dan sebagainya. Plasm nutfah hanya dapat dipelihara dalam jaringan yang hidup (living tissue) seperti pada embrio dari biji mati maka hilanglah plasma nutfah (Ardi, 2006).
Keanekaragaman hayati satu spesies dapat dilihat dari hubungan kekerabatan antar genotipe dalam spesies tersebut. Hubungan kekerabatan yang jauh mengindikasikan bahwa keanekaragaman hayati dalam spesies tersebut masih tinggi. Untuk mendapatkan informasi diperlukan adanya suatu program karakterisasi dari plasma nutfah.
Erosi genetik pada jenis-jenis yang dieksploitasi tanpa dasar ilmiah memberikan dampak yang memprihatinkan. Fragmentasi dan kerusakan habitat, pengurasan alami dan penanaman kultivar lokal akan menyebabkan keanekaragaman genetika makin lama makin menipis dan akan berakhir dengan kepunahan gen-gen yang berpotensi (Sastrapradja, et al., 1989). Solusi yang paling realistis untuk menanggulangi erosi sumberdaya genetik yang terus terjadi adalah dengan melakukan konservasi genetika. Kegiatan ini berupa pengelolaan koleksi dan pemeliharaan pusat-pusat sumber daya genetik yang mewakili spektrum keanekaragaman genetik.
Pengolahan sumber daya genetik tumbuhan meliputi upaya untuk melestarikan, mengamankan sekaligus memanfaatkan keanekaragaman genetik seoptimal mungkin sehingga berguna, baik bagi generasi sekarang, maupun yang akan datang. Pada spesies tanaman budidaya, sumber genetik telah lama diketahui sebagai aset yang sangat berharga bagi program perbaikan sifat tanaman (Oldfield, 1989). Langkah-langkah operasional dalam pengelolaan sumber daya genetika yang lengkap meliputi : 1) kegiatan eksplorasi, inventarisasi, dan identifikasi sumberdaya genetik, 2) melakukan koleksi secara eksitu dan insitu, 3) dokumentasi, 4) evaluasi, karakterisasi, dan katalogisasi, 5) pemanfaatan, seleksi, hibridisasi, dan perakitan varietas, 6) konservasi dan rejuvinasi, serta 7) pertukaran materi, perlindungan, dan komersialisasi.
Poespodarsono (1998) menyebutkan, proses atau langkah kedua dari tujuh langkah yang harus dilakukan seorang pemulia untuk memuliakan suatu tanaman adalah dengan menyediakan materi pemuliaan. Suatu tanaman dapat dimuliakan salah satunya bila ada perbedaan genetik pada materi pemuliaan yang dimilki oleh pemulia. Jadi untuk melakukan pemuliaan pada tanaman, perlu keragamaan dari tanaman tersebut, oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi karakteristik morfologi dari tanaman tersebut.



DAFTAR PUSTAKA
[APTINDO] Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia. 2007. Laporan APTINDO Tahun 2007. Jakarta: APTINDO.
[APTINDO] Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia. 2009. Peran Aptindo dalam Mendukung Pengembangan Gandum di Indonesia. Jakarta: APTINDO.
                                                                                                           .2010. Laporan APTINDO Tahun 2010. Jakarta: APTINDO.                                                                                
Ardi. 2006. Pelestaran Plasma nutfah. Bahan Kuliah. Fakultas Pertanian Unversitas Andalas. Padang.
Bari. A, musa. S, Sjamsudin. 1974. Pengantar pemuliaan Tanaman. Institut Pertanian Bogor.
Bogasari. 2004. Referensi Industri. http://www.bogasariflaour.com/ref_ind.htm.[7 mai 2009].
Direktorat Budidaya Serealia. 2008. Inventarisasi Pengembangan Gandum. Jakarta : Departemen Pertanian.
Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan. 2001. Teknologi Produksi Gandum. Jakarta : Departemen Pertanian.
Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan. 2003. Pedoman Teknis Peningkatan Produktivitas Gandum. Jakarta: Departemen Pertanian.
Ditjen Tanaman Pangan. 2008. Bahan Publikasi : Pengembangan Gandum. Jakarta : Departemen Pertanian.
http://www.deptan.go.id/20011. Gandum. Diakses pada tanggal 23 April 2011.
Nurmala, T. 1980. Budidaya TanamanGandum. Bandung : PT. Karya Nusantara Jakarta.
Oldfield, M.L. 1989. The Value Of Conserving Recources. Sinauer : Sunderland.
Oldfield, M.L. 1998. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Institut Pertanian Bogor : Bogor.
Puspita, A.A.D. 2009. Analsis Dayasaing dan  Strategi Pengembangan Agribisnis Gandum Lokal di Indonesia. [Skripsi]. Bogor. Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Simanjuntak, Riduan. Budidaya Gandum di Indonesia Sebagai Alternatif Dalam Upaya Mengurangi Ketergantungan Terhadap Impor Gandum dan Impor Terigu. http://riduansimanjuntak.multiply.com/journal/item/7/Budidaya_Gandum_di_Indonesia_Sebagai_Alternatif_Dalam_Upaya_Mengurangi_Ketergantungan_Terhadap_Impor_Gandum_dan_Impor_Terigu. Diakses pada tanggal 12 April 2011.
Sovan, M. 2002. Penangan pascapanen gandum. Disampaikan pada acara rapat koordinasi pengembangan gandum di Pasuruan, Jawa Timur, 3-5 September 2002.  Direktorat Serealia Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan.
Sudarmini. 2001. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Gandum (Triticum aestivum L.) Pada Periode Tanam dan Taraf Pemupukan Nitrogen Yang Berbeda. [Skripsi]. Bogor. Fakultas MIPA Institut Pertanan Bogor.
Swasti, E. Dan Jamsari. 2005. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Andalas. Pasang
Swasti, Etti. 2007. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang.
Read More ->>

Daftar Blog Saya

Blogroll

Statistik

latar blkng

Ganti Gambar Latarnya Sesuka Kamu


Pasang Seperti Ini

Followers

Pages

Blogger news

Banner

Flag Counter

Laman

Halaman

Oleh nanda nugraha. Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Popular Posts